Rabu, 08 Juli 2015

Sejarah Berdirinya Purbalingga

SEJARAH BERDIRINYA PURBALINGGA

Sebuah nama yang pasti tidak akan tertinggal ketika membicarakan sejarah Purbalingga adalah Kyai Arsantaka, seorang tokoh yang menurut sejarah menurunkan tokoh-tokoh Bupati Purbalingga.Kyai Arsantaka yang pada masa mudanya bernama Kyai Arsakusuma adalah putra dari Bupati Onje II. Sesudah dewasa diceritakan bahwa kyai Arsakusuma meninggalkan Kadipaten Onje untuk berkelana ke arah timur dan sesampainya di desa Masaran (Sekarang di Kecamatan Bawang, Kabupaten Banjarnegara) diambil anak angkat oleh Kyai Wanakusuma yang masih anak keturunan Kyai Ageng Giring dari Mataram. Pada tahun 1740 – 1760, Kyai Arsantaka menjadi demang di Kademangan Pagendolan (sekarang termasuk wilayah desa Masaran), suatu wilayah yang masih berada dibawah pemerintahan Karanglewas (sekarang termasuk kecamatan Kutasari, Purbalingga) yang dipimpin oleh Tumenggung Dipayuda I. Banyak riwayat yang menceritakan tenang heroisme dari Kyai Arsantaka antara lain ketika terjadi perang Jenar, yang merupakan bagian dari perang Mangkubumen, yakni sebuah peperangan antara Pangeran Mangkubumi dengan kakaknya Paku Buwono II dikarenakan Pangeran mangkubumi tidak puas terhadap sikap kakanya yang lemah terhadap kompeni Belanda.
Dalam perang jenar ini, Kyai Arsantaka berada didalam pasukan kadipaten Banyumas yang membela Paku Buwono. Dikarenakan jasa dari Kyai Arsantaka kepada Kadipaten Banyumas pada perang Jenar, maka Adipati banyumas R. Tumenggung Yudanegara mengangkat putra Kyai Arsantaka yang bernama Kyai Arsayuda menjadi menantu. Seiring dengan berjalannya waktu, maka putra Kyai Arsantaka yakni Kyai Arsayuda menjadi Tumenggung Karangwelas dan bergelar Raden Tumenggung Dipayuda III.Masa masa pemerintahan Kyai Arsayuda dan atas saran dari ayahnya yakni Kyai Arsantaka yang bertindak sebagai penasihat, maka pusat pemerintahan dipiindah dari Karanglewas ke desa Purbalingga yang diikuti dengan pembangunan pendapa Kabupaten dan alun-alun. Nama Purbalingga ini bisa kita dapati didalam kisah-kisah babad. Adapun Kitab babad yang berkaitan dan menyebut Purbalingga diantaranya adalah Babad Onje, Babad Purbalingga, Babad Banyumas dan Babad Jambukarang. Selain dengan empat buah kitap babat tsb, maka dalam merekonstruksi sejarah Purbalingga, juga melihat arsip-arsip peninggalan Pemerintah Hindia Belanda yang tersimpan dalam koleksi Aarsip Nasional Republik Indonesia.Berdasarkan sumber-sumber diatas, maka melalui Peraturan daerah (perda) No. 15 Tahun 1996 tanggal 19 Nopember 1996, ditetapkan bahwa hari jadi Kabupaten Purbalingga adalah 18 Desember 1830 atau 3 Rajab 1246 Hijriah atau 3 Rajab 1758 Je.

Quote:
Bupati Purbalingga dari Masa ke Masa :
o Raden Tumenggung Dipoyudo III (1759 – 1787)
o Raden Tumenggung Dipokusumo I (1792 – 1811)
o Raden Mas Tumenggung Brotosudiro (1811 – 1831)
o Raden Mas Tumenggung Adipati Dipokusumo II (1831 – 1855)
o Raden Adipati Dipokusumo III (1855 – 1868)
o Raden Adipati Dipokusumo IV (1868 – 1883)
o Raden Tumenggung Dipokusumo V (1883 – 1894)
o Kanjeng Raden Adipati Ario Dipokusumo VI G.S.O.O.N ( 1899 – 1925)
o Raden Mas Adipati Aryo Sugondo (1925 – 1949) (Bupati Sugondo, merupakan bupati ke IX dan ke X. Ia adalah bupati terakhir dari keturunan Kyai Arsantaka, cikal bakal pendiri kota Purbalingga). Setelah Sugondo, pengangkatan bupati berdasarkan keturunan tidak berlaku lagi (dihapus).
Bupati Purbalingga atas dasar pemilihan :
o Raden Utoyo Kusumo (1950 – 1954)
o Raden Hadisukmo (1954 – 1960). Pada tahun ini terdapat dua pimpinan daerah. Sebagai bupati Raden Hadisukmo, sedang kepala daerah adalah Mas Kocosukarto.
o R Mochamad Sujadi (1960 – 1967, sekaligus sebagai kepala daerah, oleh karenanya sebutannya menjadi Bupati kepala daerah)
o R Bambang Mudarmo (1967 – 1973)
o Letkol Guntur Daryono (1973 – 1979)
o Drs. Sutarno (1979 – 1984)
o Drs. Sukirman ( 1984 – 1989)
o Drs. Soelarno (1989 – 1999, dua periode
o Drs. H Triyono Budi Sasongko, M.Si – Drs H Soetarto Rachmat (Bupati – wakil bupati, Maret 2000 – Maret 2005)
o Drs. H. Triyono Budi Sasongko, MSi – Drs. H. Heru Sujatmoko, MSi (Bupati-wakil bupati, Maret 2005 – Maret 2010).
o Drs. H. Heru Sudjatmoko, M. Si – Drs. H. Sukento Rido Marhaendrianto, MM (Bupati – wakil bupati, periode 2010 -2015)
Pemilihan bupati berdasar UU No 22/1999 (Direvisi UU No 32/2004) dilakukan satu paket, antara bupati – wakil bupati. Tahun 2005 pasangan calon bupati – wakil dipilih langsung oleh rakyat.

Selasa, 09 Juni 2015

INDUSTRI DI PURBALINGGA

INDUSTRI DI PURBALINGGA


Desa wisata Karangbanjar terletak di kabupaten Purbalingga, propinsi Jawa Tengah. Desa Wisata Karangbanjar berada sekitar 2 km dari ibukota kecamatan Bojongsari atau sekitar 5 km dari arah sebelah utara ibukota kabupaten Purbalingga. Di sebelah utara, berbatasan dengan desa Sumingkir dan Beji, di sebelah selatan, dengan desa Munjul, di sebelah timur dengan desa Bojongsori dan Kajongan, serta di sebelah barat dengan desa Kutasari.

Beberapa orang yang tinggal di desa karang banjar mayoritas bekerja dalam bidang industri seperti industri rambut. Purbalingga juga mempunyai beberapa prodak unggulan yang sudah sangat terkenal.Bahkan produk produk purbalingga sudah menembus ke pasar Internasional.Produk tersebut adalah Knalpot, Rambut palsu dan Bulu mata palsu.Untuk Knalpot pembuatanya masih dilakukan oleh Home Industri sedangkan untuk Rambut dan bulu mata palsu dilakukan oleh Pabrikan dan Home industri.

dan ini adalah gambar salah satu dari hasil produksi purbalingga terutama dalam bidang industri rambut palsu


sedangkan ini hasil produksi purbalingga juga yang sudah terkenal di berbagai kota sebagai penghasil knalpot

Wisata Buatan Purbalingga

Kabupaten Purbalingga merupakan salah satu daerah di wilayah Propinsi Jawa Tengah.Di bidang Pariwisata kabupaten Purbalingga sekarang sudah menjadi ikon pariwisata di Propinsi Jawa Tengah.Banyak sekali obyek wisata yang ada di wilayah Kabupaten Purbalingga.Hal ini akan memudahkan para wisatawan yang datang berkunjung ke Kabupaten Purbalingga.Beberapa obyek wisata yang ada di kabupaten Purbalingga diantaranya :

A. WISATA BUATAN

Beberapa obyek wisata buatan yang ada di Purbalingga berupa Water Boom.Ini dikarenakan Purbalingga sangat berlimpah sumber mata air yang sangat jernih dan bersih.Bahkan menurut sebuah penelitian sumber mata air yang digunakan oleh pengelola obyek wisata aman bagi tubuh apabila tertelan.Beberapa obyek wisata buatan tersebut adalah :

1. OWABONG (Obyek Wisata Air Bojongsari)

Berlokasi di desa Bojongsari kec Bojongsari Kab Purbalingga. Owabong merupakan obyek wisata andalan Kab Purbalingga.Penyumbang PAD terbesar di sektor pariwisata ini dikunjungi bukan oleh wisatawan lokal kabupaten saja.Wisatawan yang datang ke Owabong dari berbagai daerah di Jawa Tengah,Jawa Barat bahkan banyak juga wisatawan yang sengaja datang dari Ibu Kota Jakarta.Owabong diresmikan pada tanggal 1 Maret 2005 oleh Bupati Waktu itu Bp Triono Budi Sasongko.Dan sampai sekarang Owabong menempati urutan kedua setelah Candi Borobudur untuk pengunjung terbanyak di Jawa tengah.



2. PEMANDIAN TIRTA ASRI WALIK

Pemandian yang terletak di Dusun Walik Desa Kutasari ini merupakan salah satu yang tertua di Purbalingga. Objek wisata ini memiliki satu buah kolam renang berukuran 20 X 40 meter dan sebuah kolam renang khusus anak.
Tak hanya pemandian, objek ini juga memiliki perbukitan yang disulap menjadi tempat bersantai yang rindang. Dengan taman yang asri dan gazebo-gazebo yang tertata rapi, menjadikan objek wisata ini sebagai tempat yang tepat untuk bersantai.



3.SANGGALURI PARK

Nama SANGGALURI merupakan singkata dari Sanggar Luru Ilmu Yang artinya Tempat Mencari Ilmu.Sebuah pilihan nama yang bagus dan Tepat karena Obyek wisata ini lebih mengedepankan wisata Edukatif.Beberapa wahana yang dimiliki oleh oyek wisata ini hampir semuanya mengandung unsur pendidikan.Lokasi yang berdekatan dengan Obyek Owabong dan pusat kota serta harga tiket yang murah ini menjadikan Sanggaluri selalu Ramai dikunjungi wisatawan baik pada hari biasa maupun Saat liburan.




Senin, 27 April 2015

A.    Masa Pemerintahan Herman William Deandels
Letak geografis belanda yang dekat dengan inggris menyebabkan Napoleon Bonaparte merasa perlu menduduki belanda. Tahun 1806, prancis (Napoleon) membubarkan Republik Btaaf dan membentuk koninkrijk Holland (kerajaanbelanda). Napoleon mengangkat Louis Napoleon sebagai raja belanda yang berarti sejak saat itu pemerintahan yang berkembang di nusantara adalah pemerintahan Belanda-Perancis. Oleh karena nusantara berada di bawah ancaman inggris yang berkuasa di hindia, napoleon membutuhkan orang yang kuat dan berpengalaman militer untuk mempertahankan wilayah jajahannya di nusantara. Louis napoleon mengangkat HERMAN W. DAENDELS Sebagai gubernur jenderal di nusantara. Daendels mulai menjalankan tugasnya pada tahun 1808 dengan tugas mempertahankan Pulau jawa dari serangan Inggris. Herman W Daendels memulai kariernya di kota kelahiranya Hattern sebagai pengacara. Pada tahun 1794 ia bergabung dengan tentara Prancis yang masuk kebelanda sebagai brigadir. Ketika sebagai letnan jenderal ia beralih kebatavia Republik dan ikut dalam perebutan kekuasaan pada tanggal 22 januari 1798. Dalam masa pemerintahannya sebagai gubernur jenderal (1808-1811), ia membuat kebijakan kontroversial, yaitu pembuatan jalan sepanjang pulau jawa (anyer-panarukan).
B.     Kebijakan Pemerintahan Herman W Deandels
Sebagai seorang revolusioner, Daendels sangat mendukung perubahan-perubahan liberal. Beliau juga bercita-cita untuk memperbaiki nasib rakyat dengan memajukan pertanian dan perdagangan. Akan tetapi, dalam melakukan kebijakan- kebijakannya beliau bersikap diktator sehingga dalam masa pemerintahannya yang singkat, yang diingat rakyat hanyalah kekejamannya. Pembaruan-pembaruan yang dilakukan Daendels dalam tiga tahun masa jabatannya di Indonesi adalah sebagai berikut :
Ø  Bidang Birokrasi Pemerintahan
1. Dewan Hindia Belanda sebagai dewan legislative pendamping gubernur jenderal dibubarkan dan diganti dengan Dewan Penasihat. Salah seorang penasihatnya yang cakap ialah Mr. Muntinghe.
2. Pulau Jawa dibagi menjadi 9 prefektuur dan 31 kabupaten. Setiap prefektuur dikepalai oleh seorang residen (prefek ) yang langsung di bawah pemerintahan Wali Negara. Setiap residen membawahi beberapa bupati.
3. Para bupati dijadikan pegawai pemerintah Belanda dan diberi pangkat sesuai denganketentuan kepegawaian pemerintah Belanda. Mereka mendapat penghasilan dari tanah dan tenaga sesuai dengan hukum adat.
Ø  Bidang Hukum dan Peradilan
1. Dalam bidang hukum, Daendels membentuk 3 jenis pengadilan :
* Pengadilan untuk orang Eropa.
* Pengadilan untuk orang pribumi.
* Pengadilan untuk orang Timur Asing.
Pengadilan untuk pribumi ada di setiap prefektuur dengan prefek sebagai ketua dan para bupati sebagai anggota. Hukum ini diterapkan di wilayah kabupaten, sedangkan di wilayah prefektuur seperti Batavia, Semarang, dan Surabaya diberlakukan hukum Eropa.
2. Pemberantasan korupsi tanpa pandang bulu, termasuk terhadap bangsa Eropa sekalipun. Akan tetapi, Daendels sendiri malah melakukan korupsi besar-besaran dalam penjualan tanah kepada swasta.
Ø  Bidang Militer dan Pertahanan
Peta jalur Anyer-Panarukan yang dibangun atas perintah Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels. Rakyat melakukan pembuatan jalan ini dengan kerja paksa atau   Rodi. Dalam melaksanakan tugas utamanya untuk mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris, Daendels mengambil langkah-langkah berikut ini :
1. Membangun jalan antara Anyer-Panarukan, baik sebagai lalu lintas pertahanan maupun perekonomian.
2. Menambah jumlah pasukan dalam angkatan perang dari 3000 orang menjadi 20.000 orang.
3. Membangun pabrik senjata di Gresik dan Semarang. Hal itu dilakukan karena beliau tidak dapat mengharapkan lagi bantuan dari Eropa akibat blokade Inggris di lautan.
4. Membangun pangkalan angkatan laut di Ujung Kulon dan Surabaya.
Ø  Bidang Ekonomi dan Keuangan
1.Membentuk Dewan Pengawas Keuangan Negara (Algemene Rekenkaer ) dan       dilakukan pemberantasan korupsi dengan keras.
2. Mengeluarkan uang kertas.
3. Memperbaiki gaji pegawai.
4. Pajak in natura (contingenten ) dan systempenyerahan wajib ( Verplichte Leverantie) yang diterapkan pada zaman VOC tetap dilanjutkan, bahkan ditingkatkan.
5. Mengadakan monopoli perdagangan beras.
6. Mengadakan Prianger Stelsel , yaitu kewajiban bagi rakyat Priangan dan sekitarnya untuk menanam tanaman ekspoer (seperti kopi).
Ø  Bidang Sosial
1.      Rakyat dipaksa melakukan kerja paksa (rodi )
2.      untuk membangun jalan Anyer-Panarukan.
3.       Perbudakkan dibiarkan berkembang.
4.       Menghapus upacara penghormatan kepada residen, sunan, atau sultan.
5.       Membuat jaringan pos distrik dengan menggunakan kuda pos.
Ø  Bidang pemerintahan
Daendels juga melakukan berbagai perubahan di bidang pemerintahan. Ia banyak melakukan campur tangan dan perubahan dalam tata cara dan adat istiadat di dalam kerajaan- kerajaan di Jawa. Untuk memperkuat kedudukannya di Jawa. Daendels berhasil mempengaruhi Mangkunegara II untuk membentuk pasukan “Legiun Mangkunegara” dengan kekuatan 1.150 orang prajurit. Pasukan ini siap sewaktu-waktu untuk membantu pasukan Daendels apabila terjadi perang. Daendels mulai melakukan intervensi terhadap pemerintahan kerajaan-kerajaan lokal, misalnya saat terjadi pergantian raja. Daendels juga melakukan beberapa tindakan yang dapat memperkuat kedudukannya di Nusantara. Beberapa tindakan yang dimaksud adalah sebagai berikut :
1.      Membatasi secara ketat kekuasaan raja- raja di Nusantara.2
2.       Membagi Pulau Jawa menjadi Sembilan daerah prefectuur/prefektur (wilayah yang memiliki otoritas). Masing-masing prefektur dikepalai oleh seorang prefek. Setiap prefek langsung bertanggung jawab kepada Gubernur Jenderal. Di dalamstruktur pemerintahan kolonial, setiap prefek membawahi para bupati.
3.       Kedudukan bupati sebagai penguasa tradisional diubah menjadi pegawai pemerintah (kolonial) yang digaji. Sekalipun demikian para bupati masih memiliki hak-hak feodal tertentu.
4.       Kerajaan Banten dan Cirebon dihapuskan dan daerahnya dinyatakan sebagai wilayah pemerintahan kolonial.
Ø  Bidang peradilan
Untuk memperlancar jalannya pemerintahan dan mengatur ketertiban dalam kehidupan bermasyarakat, Daendels juga melakukan perbaikan di bidang peradilan. Daendels berusaha memberantas berbagai penyelewengan dengan mengeluarkan berbagai peraturan. Daendels membentuk tiga jenis peradilan:
1.      peradilan untuk orang Eropa,
2.      peradilan untuk orang-orang Timur Asing,
3.       peradilan untuk orang-orang
C.     Akhir Kekuasaan Herman W Deandels
Kejatuhan Daendels antara lain disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut:
1.      Sikapnya yang otoriter terhadap raja-raja Banten, Yogyakarta, Dan Cirebon menimbulkan pertentangan dan perlawanan.
2.       Penyelewengan dalam kasus penjualan tanah terhadap pihak swasta dan manipulasi penjualan istana bogor.
3.      Keburukan dalam system administrasi pemerintahan. Louis Bonaparte sebagai raja belanda akhirnya menarik kembali Daendels dengan pertimbangan Daendels sudah berbuat optimal di nusantara. Apabila di teruskan lebih lama lagi, di khawatirkan akan memperburuk citra Belada di Nusantara. Penarikan Daendels ke Belanda disertai dengan pengangkatannya sebagai seorang panglima perang yang kemudian di kirim kemedan perang Rusia.


BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Kedatangan awal bangsa belanda ke Indonesia yaitu semula untuk berdagang menjadi keinginan untuk mengeksploitasikan kekayaan alam Indonesia. Guna mendukung penguasaannya terhadap rempah-rempah di Indonesia, belanda membentuk serikat dagang yang diberinama VOC. VOC pun dengan leluasa menbuat kebijakannya yang sangat merugikan bagsa Indonesia. Herman w daendels, adalah salah satu gubernur jenderal yang memegang tampuk kekusaan VOC sering kali membuat rakyat Indonesia sengsara. Kebijakannya yang paling kontroversional adalah pembuatan jalan sepanjang pulau jawa (anyer-panarukan), yang sangat membuat rakyat jawa pada masa itu sengsara.















DAFTAR PUSTAKA

http://wartasejarah.blogspot.com/2013/07/gubernur-jenderal-herman-william.html?m=1


           Judul Buku                   : Cut Meutia Pahlawan Nasional dan Puteranya
Pengarang                     : Prof.Tk. H. Ismail Yakub SH, MA
Penerbit                        : C.V. Faizan
Kota                              : Jawa Tengah
Cut Nyak Meutia
Lahir: Keureutoe, Pirak, Aceh Utara, tahun 1870
Meninggal: Alue Kurieng, Aceh, 24 Oktober 191
Agama: Islam
Cut Meutia adalah seorang pahlawan yang pernah menjajah Belanda di Aceh. Pada hari Rabu 26 Maret 1873, Belanda memaklumkan perang kepada kerajaan Aceh. Berbagai macam alasan yang di kemukakannya, untuk membenarkan tindakannya. Di antara lain, Belanda menuduh bahwa kerajaan Aceh bersalah melanggar perjanjian yang yang sudah diikatnya dengan Belanda tanggal 30 Maret 1857 tentang Perniagaan, perdamaian dan persahabatan. Maka kepentingan umum, sebagai yang di perlukan demi keamanannya sendiri, apakah tindak di ambil kekerasan. Suasana di Aceh pada masa tiga empat tahun sebelum ultimatum perang itu agak rawan juga. Sultan Aceh Ibrahim Mansyur Syah pulang ke rahmatullah pada tahun 1870. Baginda tidak meninggalkan putera. Maka dengan mufakat orang-orang besar kerajaan di nobatkan Tuanku Mahmud putera almahrum Sultan Mansyur Syah menjadi sultan Aceh.
Ketika Aceh tidak dapat lagi bertahan untuk menjadi tempat kedudukan sultan pada meneruskan perjuangan mempertahankan negeri dari serangan Belabda, maka baginda memindahkan ibukotanya ke daerah Pidie di Keumala. Kemudian sesudah Pidie, mengalami lagi hal yang serupa dengan Aceh tidak lagi, lalu baginda menuju arah Timur lagi. Yaitu : kee daerah Peusangan. Kemudian ke Timur lagi, yaitu: ke daerah Pasei. Daerah Pasei itu luas, yang dapat di katakana sekarang, bagian Timur dari Lhouseumawe, ibu kota kabupaten Aceh Utara, sampai ke Panton Labu, dekat dengan sungai Jambu Aye. Itulah yang di masa lampau, menjadi daerah yang masuk dalam kerajaan Pasei, yang terkenal di seluruh dunai, sebagai Negara islam yang pertama di Nusantara, dengan rajanya yang termasyhur; Sultan Malik Ashaleh.
Cut Nyak Meutia dilahirkan di Keureutoe, Pirak, Aceh Utara, tahun 1870, beliau adalah salah satu Pahlawan Nasional Indonesia yang berasal dari Aceh selain Cut nyak dhien. Cut Meutia mulai melawan Belanda pada saat menjadi istri dari Teuku Chik Muhammad atau yang lebih dikenal dengan nama Teuku Chik Di Tunong. Namun pada bulan Maret 1905, Chik Tunong berhasil ditangkap Belanda dan dihukum mati di tepi pantai Lhokseumawe. Sebelum meninggal, Teuku Chik Di Tunong berpesan kepada sahabatnya Pang Nanggroe agar mau menikahi istrinya dan merawat anaknya Teuku Raja Sabi. Sesuai wasiat suaminya maka Cut Meutia kemudian menikah dengan Pang Nanggroe dan bergabung dengan pasukan lainnya dibawah pimpinan Teuku Muda Gantoe. Pada suatu pertempuran dengan Korps Marechausée di Paya Cicem, Cut Meutia dan para wanita melarikan diri ke dalam hutan. Pang Nagroe sendiri terus melakukan perlawanan hingga akhirnya tewas pada tanggal 26 September 1910. Perjuangan melawan penjajahpun Cut Meutia lakukan bersama sisa-sisa pasukannya. Ia menyerang dan merampas pos-pos kolonial sambil bergerak menuju Gayo melewati hutan belantara. Namun pada tanggal 24 Oktober 1910, Cut Meutia bersama pasukkannya bentrok dengan Marechausée di Alue Kurieng. Dalam pertempuran itu Cut Meutia gugur.
 Kehidupan Awal Latar Belakang Keluarga Cut Meutia adalah putri dari ayah yang bernama Teuku Ben Daud Pirak dan ibu Cut Jah. Cut meutia adalah putri satu-satunya dari empat saudara laki-laki yang lainnya yaitu: Teuku Cut Beurahim disusul kemudian Teuku Muhammadsyah, Teuku Cut Hasan dan Teuku Muhammad Ali. Ayahnya adalah seorang Uleebalalang di desa Pirak yang berada dalam daerah keuleebalangan Keureutoe. Cut meutia lahir di daerah Uleebalang Pirak, daerah yang berdiri sendiri karena daerah ini mempunyai pemerintahan dan kehakiman tersendiri sehingga dapat memutuskan perkara-perkara dalam tingkat yang rendah. Saat daerah Uleebalang Pirak di bawah kepemimpinan Teuku Ben Daud (ayah Cut Meutia) suasana penuh dengan ketenangan dan kedamaian. Sebagai seorang yang bijaksana perhatian Teuku Ben Daud selalu tertumpah pada rakyatnya karena selain sebagai Uleebalang dia juga dikenal sebagai seorang ulama yang sampai akhir hayatnya tidak mau tunduk dan patuh pada Belanda, tidaklah mengherankan jika sifat kesatria itu terbina dalam diri Cut Meutia. Masa Muda Selain memiliki nama yang indah (Meutia) tapi Cut Meutia juga berparas cantik, serta bentuk tubuh yang indah menyertainya. Seperti yang diungkapkan seorang penulis Belanda: Cut Meutia bukan saja amat cantik, tetapi ia juga memiliki tubuh yang tampan dan mengga1rahkan. Dengan mengenakan pakaian adatnya yang indah-indah menurut kebiasaan wanita di Aceh dengan silueue (celana) sutera bewarna hitam dan baju dikancing perhiasan- perhiasan emas di dadanya serta tertutup ketat, dengan rambutnya yang hitam pekat dihiasi ulee cemara emas (sejenis perhiasan rambut) dengan gelang di kakinya yang melingkar pergelangan lunglai, wanita itu benar-benar seorang bidadari. (H.C Zentgraaff, 1983: 151) Setelah dewasa Cut Meutia dinikahkan dengan Teuku Syamsarif yang bergelar Teuku Chik Bintara. Namun Syamsarif mempunyai watak lemah dan sikap hidupnya yang ingin berdampingan dengan Kompeni. Namun pernikahan mereka tidak bertahan lama, dan bercerai, Cut meutia kemudian menikah dengan adik Teuku Syamsarif sendiri yaitu Teuku Chik Muhammad atau yang lebih dikenal dengan nama Teuku Chik Tunong. Setelah itu ia dan suaminya berhijrah ke gunung untuk melawan Belanda.

Perlawanan Melawan Belanda Perjuangan dengan Teuku Chik Tunong: Tahun 1901 adalah awal pergerakan, dengan perjuangan dari daerah Pasai atau Krueng Pa (Aceh Utara) di bawah komando perang Teuku C Tunong. Mereka memakai taktik gerilya d spionase dengan menggunakan untuk praj memata-matai gerak-gerik pasukan lawan Perjuangan dengan Pang Nanggroe Sesuai amanah dari almarhum suaminya, Meutia menerima lamaran Pang Nanggroe. D dengan beliau, Cut Meutia melanjutkan perjuang melawan Belanda dengan memindahkan mark basis perjuangan ke Buket Bruek Ja. Pa Nanggroe mengatur siasat perlawanan melaw Cut Meutia Memimpin Pasukan Kepemimpinan pasukan diambil alih oleh Cut Meutia setelah Pang Nanggroe syahid, dan basis pertahanan dipindahkan ke daerah Gayo dan Alas bersama pasukan yang dipimpin oleh Teuku Seupot Mata. Pada tanggal 22 Oktober 1910, pasukan Belanda mengejar pasukan Cut Meutia yang diperkirakan berada di daerah Lhokreuhat. Esoknya pengejaran dilakukan kembali ke daerah Krueng Putoe menuju Bukit Paya sehingga membuat pasukan Cut Meutia semakin terjepit dan selalu berpindah antar gunung dan hutan belantaraa yang sangat banyak. Dalam pertempuran tanggal 25 Oktober di Krueng Putoe, pasukan Cut Meutia menghadapi serangan Belanda. Di sinilah Cut Meutia syahid bersama pasukan muslim yang lain seperti Teuku Chik Paya Bakong, Teungku Seupot Mata dan Teuku Mat Saleh. Menjelang gugurnya, Cut Meutia mewasiatkan kepada Teuku Syech Buwah untuk tidak lagi menghadapi serangan belanda, taktik selanjutnya adalah mundur sejauh mungkin dan menyusun serangan kembali, karena posisi mereka sudah sangat terjepit kali ini. Cut Meutia juga menitipkan anaknya untuk dicari dan dijaga. Cut Meutia wafat di Alue Kurieng, Aceh, 24 Oktober 1910, dinobatkan menjadi Pahlawan Kemerdekaan Nasional pada 2 Mei 1964 berdasarkan Keppres No. 106 Tahun 1964.