Senin, 27 April 2015

           Judul Buku                   : Cut Meutia Pahlawan Nasional dan Puteranya
Pengarang                     : Prof.Tk. H. Ismail Yakub SH, MA
Penerbit                        : C.V. Faizan
Kota                              : Jawa Tengah
Cut Nyak Meutia
Lahir: Keureutoe, Pirak, Aceh Utara, tahun 1870
Meninggal: Alue Kurieng, Aceh, 24 Oktober 191
Agama: Islam
Cut Meutia adalah seorang pahlawan yang pernah menjajah Belanda di Aceh. Pada hari Rabu 26 Maret 1873, Belanda memaklumkan perang kepada kerajaan Aceh. Berbagai macam alasan yang di kemukakannya, untuk membenarkan tindakannya. Di antara lain, Belanda menuduh bahwa kerajaan Aceh bersalah melanggar perjanjian yang yang sudah diikatnya dengan Belanda tanggal 30 Maret 1857 tentang Perniagaan, perdamaian dan persahabatan. Maka kepentingan umum, sebagai yang di perlukan demi keamanannya sendiri, apakah tindak di ambil kekerasan. Suasana di Aceh pada masa tiga empat tahun sebelum ultimatum perang itu agak rawan juga. Sultan Aceh Ibrahim Mansyur Syah pulang ke rahmatullah pada tahun 1870. Baginda tidak meninggalkan putera. Maka dengan mufakat orang-orang besar kerajaan di nobatkan Tuanku Mahmud putera almahrum Sultan Mansyur Syah menjadi sultan Aceh.
Ketika Aceh tidak dapat lagi bertahan untuk menjadi tempat kedudukan sultan pada meneruskan perjuangan mempertahankan negeri dari serangan Belabda, maka baginda memindahkan ibukotanya ke daerah Pidie di Keumala. Kemudian sesudah Pidie, mengalami lagi hal yang serupa dengan Aceh tidak lagi, lalu baginda menuju arah Timur lagi. Yaitu : kee daerah Peusangan. Kemudian ke Timur lagi, yaitu: ke daerah Pasei. Daerah Pasei itu luas, yang dapat di katakana sekarang, bagian Timur dari Lhouseumawe, ibu kota kabupaten Aceh Utara, sampai ke Panton Labu, dekat dengan sungai Jambu Aye. Itulah yang di masa lampau, menjadi daerah yang masuk dalam kerajaan Pasei, yang terkenal di seluruh dunai, sebagai Negara islam yang pertama di Nusantara, dengan rajanya yang termasyhur; Sultan Malik Ashaleh.
Cut Nyak Meutia dilahirkan di Keureutoe, Pirak, Aceh Utara, tahun 1870, beliau adalah salah satu Pahlawan Nasional Indonesia yang berasal dari Aceh selain Cut nyak dhien. Cut Meutia mulai melawan Belanda pada saat menjadi istri dari Teuku Chik Muhammad atau yang lebih dikenal dengan nama Teuku Chik Di Tunong. Namun pada bulan Maret 1905, Chik Tunong berhasil ditangkap Belanda dan dihukum mati di tepi pantai Lhokseumawe. Sebelum meninggal, Teuku Chik Di Tunong berpesan kepada sahabatnya Pang Nanggroe agar mau menikahi istrinya dan merawat anaknya Teuku Raja Sabi. Sesuai wasiat suaminya maka Cut Meutia kemudian menikah dengan Pang Nanggroe dan bergabung dengan pasukan lainnya dibawah pimpinan Teuku Muda Gantoe. Pada suatu pertempuran dengan Korps Marechausée di Paya Cicem, Cut Meutia dan para wanita melarikan diri ke dalam hutan. Pang Nagroe sendiri terus melakukan perlawanan hingga akhirnya tewas pada tanggal 26 September 1910. Perjuangan melawan penjajahpun Cut Meutia lakukan bersama sisa-sisa pasukannya. Ia menyerang dan merampas pos-pos kolonial sambil bergerak menuju Gayo melewati hutan belantara. Namun pada tanggal 24 Oktober 1910, Cut Meutia bersama pasukkannya bentrok dengan Marechausée di Alue Kurieng. Dalam pertempuran itu Cut Meutia gugur.
 Kehidupan Awal Latar Belakang Keluarga Cut Meutia adalah putri dari ayah yang bernama Teuku Ben Daud Pirak dan ibu Cut Jah. Cut meutia adalah putri satu-satunya dari empat saudara laki-laki yang lainnya yaitu: Teuku Cut Beurahim disusul kemudian Teuku Muhammadsyah, Teuku Cut Hasan dan Teuku Muhammad Ali. Ayahnya adalah seorang Uleebalalang di desa Pirak yang berada dalam daerah keuleebalangan Keureutoe. Cut meutia lahir di daerah Uleebalang Pirak, daerah yang berdiri sendiri karena daerah ini mempunyai pemerintahan dan kehakiman tersendiri sehingga dapat memutuskan perkara-perkara dalam tingkat yang rendah. Saat daerah Uleebalang Pirak di bawah kepemimpinan Teuku Ben Daud (ayah Cut Meutia) suasana penuh dengan ketenangan dan kedamaian. Sebagai seorang yang bijaksana perhatian Teuku Ben Daud selalu tertumpah pada rakyatnya karena selain sebagai Uleebalang dia juga dikenal sebagai seorang ulama yang sampai akhir hayatnya tidak mau tunduk dan patuh pada Belanda, tidaklah mengherankan jika sifat kesatria itu terbina dalam diri Cut Meutia. Masa Muda Selain memiliki nama yang indah (Meutia) tapi Cut Meutia juga berparas cantik, serta bentuk tubuh yang indah menyertainya. Seperti yang diungkapkan seorang penulis Belanda: Cut Meutia bukan saja amat cantik, tetapi ia juga memiliki tubuh yang tampan dan mengga1rahkan. Dengan mengenakan pakaian adatnya yang indah-indah menurut kebiasaan wanita di Aceh dengan silueue (celana) sutera bewarna hitam dan baju dikancing perhiasan- perhiasan emas di dadanya serta tertutup ketat, dengan rambutnya yang hitam pekat dihiasi ulee cemara emas (sejenis perhiasan rambut) dengan gelang di kakinya yang melingkar pergelangan lunglai, wanita itu benar-benar seorang bidadari. (H.C Zentgraaff, 1983: 151) Setelah dewasa Cut Meutia dinikahkan dengan Teuku Syamsarif yang bergelar Teuku Chik Bintara. Namun Syamsarif mempunyai watak lemah dan sikap hidupnya yang ingin berdampingan dengan Kompeni. Namun pernikahan mereka tidak bertahan lama, dan bercerai, Cut meutia kemudian menikah dengan adik Teuku Syamsarif sendiri yaitu Teuku Chik Muhammad atau yang lebih dikenal dengan nama Teuku Chik Tunong. Setelah itu ia dan suaminya berhijrah ke gunung untuk melawan Belanda.

Perlawanan Melawan Belanda Perjuangan dengan Teuku Chik Tunong: Tahun 1901 adalah awal pergerakan, dengan perjuangan dari daerah Pasai atau Krueng Pa (Aceh Utara) di bawah komando perang Teuku C Tunong. Mereka memakai taktik gerilya d spionase dengan menggunakan untuk praj memata-matai gerak-gerik pasukan lawan Perjuangan dengan Pang Nanggroe Sesuai amanah dari almarhum suaminya, Meutia menerima lamaran Pang Nanggroe. D dengan beliau, Cut Meutia melanjutkan perjuang melawan Belanda dengan memindahkan mark basis perjuangan ke Buket Bruek Ja. Pa Nanggroe mengatur siasat perlawanan melaw Cut Meutia Memimpin Pasukan Kepemimpinan pasukan diambil alih oleh Cut Meutia setelah Pang Nanggroe syahid, dan basis pertahanan dipindahkan ke daerah Gayo dan Alas bersama pasukan yang dipimpin oleh Teuku Seupot Mata. Pada tanggal 22 Oktober 1910, pasukan Belanda mengejar pasukan Cut Meutia yang diperkirakan berada di daerah Lhokreuhat. Esoknya pengejaran dilakukan kembali ke daerah Krueng Putoe menuju Bukit Paya sehingga membuat pasukan Cut Meutia semakin terjepit dan selalu berpindah antar gunung dan hutan belantaraa yang sangat banyak. Dalam pertempuran tanggal 25 Oktober di Krueng Putoe, pasukan Cut Meutia menghadapi serangan Belanda. Di sinilah Cut Meutia syahid bersama pasukan muslim yang lain seperti Teuku Chik Paya Bakong, Teungku Seupot Mata dan Teuku Mat Saleh. Menjelang gugurnya, Cut Meutia mewasiatkan kepada Teuku Syech Buwah untuk tidak lagi menghadapi serangan belanda, taktik selanjutnya adalah mundur sejauh mungkin dan menyusun serangan kembali, karena posisi mereka sudah sangat terjepit kali ini. Cut Meutia juga menitipkan anaknya untuk dicari dan dijaga. Cut Meutia wafat di Alue Kurieng, Aceh, 24 Oktober 1910, dinobatkan menjadi Pahlawan Kemerdekaan Nasional pada 2 Mei 1964 berdasarkan Keppres No. 106 Tahun 1964.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar