Judul Buku : Cut Meutia Pahlawan Nasional dan
Puteranya
Pengarang :
Prof.Tk. H. Ismail Yakub SH, MA
Penerbit : C.V. Faizan
Kota : Jawa Tengah
Cut
Nyak Meutia
Lahir:
Keureutoe, Pirak, Aceh Utara, tahun 1870
Meninggal:
Alue Kurieng, Aceh, 24 Oktober 191
Agama:
Islam
Cut
Meutia adalah seorang pahlawan yang pernah menjajah Belanda di Aceh. Pada hari
Rabu 26 Maret 1873, Belanda memaklumkan perang kepada kerajaan Aceh. Berbagai
macam alasan yang di kemukakannya, untuk membenarkan tindakannya. Di antara
lain, Belanda menuduh bahwa kerajaan Aceh bersalah melanggar perjanjian yang
yang sudah diikatnya dengan Belanda tanggal 30 Maret 1857 tentang Perniagaan,
perdamaian dan persahabatan. Maka kepentingan umum, sebagai yang di perlukan demi
keamanannya sendiri, apakah tindak di ambil kekerasan. Suasana di Aceh pada
masa tiga empat tahun sebelum ultimatum perang itu agak rawan juga. Sultan Aceh
Ibrahim Mansyur Syah pulang ke rahmatullah pada tahun 1870. Baginda tidak
meninggalkan putera. Maka dengan mufakat orang-orang besar kerajaan di nobatkan
Tuanku Mahmud putera almahrum Sultan Mansyur Syah menjadi sultan Aceh.
Ketika
Aceh tidak dapat lagi bertahan untuk menjadi tempat kedudukan sultan pada
meneruskan perjuangan mempertahankan negeri dari serangan Belabda, maka baginda
memindahkan ibukotanya ke daerah Pidie di Keumala. Kemudian sesudah Pidie,
mengalami lagi hal yang serupa dengan Aceh tidak lagi, lalu baginda menuju arah
Timur lagi. Yaitu : kee daerah Peusangan. Kemudian ke Timur lagi, yaitu: ke
daerah Pasei. Daerah Pasei itu luas, yang dapat di katakana sekarang, bagian
Timur dari Lhouseumawe, ibu kota kabupaten Aceh Utara, sampai ke Panton Labu,
dekat dengan sungai Jambu Aye. Itulah yang di masa lampau, menjadi daerah yang
masuk dalam kerajaan Pasei, yang terkenal di seluruh dunai, sebagai Negara
islam yang pertama di Nusantara, dengan rajanya yang termasyhur; Sultan Malik
Ashaleh.
Cut
Nyak Meutia dilahirkan di Keureutoe, Pirak, Aceh Utara, tahun 1870, beliau
adalah salah satu Pahlawan Nasional Indonesia yang berasal dari Aceh selain Cut
nyak dhien. Cut Meutia mulai melawan Belanda pada saat menjadi istri dari Teuku
Chik Muhammad atau yang lebih dikenal dengan nama Teuku Chik Di Tunong. Namun
pada bulan Maret 1905, Chik Tunong berhasil ditangkap Belanda dan dihukum mati
di tepi pantai Lhokseumawe. Sebelum meninggal, Teuku Chik Di Tunong berpesan
kepada sahabatnya Pang Nanggroe agar mau menikahi istrinya dan merawat anaknya
Teuku Raja Sabi. Sesuai wasiat suaminya maka Cut Meutia kemudian menikah dengan
Pang Nanggroe dan bergabung dengan pasukan lainnya dibawah pimpinan Teuku Muda
Gantoe. Pada suatu pertempuran dengan Korps Marechausée di Paya Cicem, Cut
Meutia dan para wanita melarikan diri ke dalam hutan. Pang Nagroe sendiri terus
melakukan perlawanan hingga akhirnya tewas pada tanggal 26 September 1910.
Perjuangan melawan penjajahpun Cut Meutia lakukan bersama sisa-sisa pasukannya.
Ia menyerang dan merampas pos-pos kolonial sambil bergerak menuju Gayo melewati
hutan belantara. Namun pada tanggal 24 Oktober 1910, Cut Meutia bersama
pasukkannya bentrok dengan Marechausée di Alue Kurieng. Dalam pertempuran itu
Cut Meutia gugur.
Kehidupan Awal Latar Belakang Keluarga Cut
Meutia adalah putri dari ayah yang bernama Teuku Ben Daud Pirak dan ibu Cut
Jah. Cut meutia adalah putri satu-satunya dari empat saudara laki-laki yang
lainnya yaitu: Teuku Cut Beurahim disusul kemudian Teuku Muhammadsyah, Teuku
Cut Hasan dan Teuku Muhammad Ali. Ayahnya adalah seorang Uleebalalang di desa
Pirak yang berada dalam daerah keuleebalangan Keureutoe. Cut meutia lahir di
daerah Uleebalang Pirak, daerah yang berdiri sendiri karena daerah ini
mempunyai pemerintahan dan kehakiman tersendiri sehingga dapat memutuskan
perkara-perkara dalam tingkat yang rendah. Saat daerah Uleebalang Pirak di
bawah kepemimpinan Teuku Ben Daud (ayah Cut Meutia) suasana penuh dengan
ketenangan dan kedamaian. Sebagai seorang yang bijaksana perhatian Teuku Ben
Daud selalu tertumpah pada rakyatnya karena selain sebagai Uleebalang dia juga
dikenal sebagai seorang ulama yang sampai akhir hayatnya tidak mau tunduk dan
patuh pada Belanda, tidaklah mengherankan jika sifat kesatria itu terbina dalam
diri Cut Meutia. Masa Muda Selain memiliki nama yang indah (Meutia) tapi Cut
Meutia juga berparas cantik, serta bentuk tubuh yang indah menyertainya.
Seperti yang diungkapkan seorang penulis Belanda: Cut Meutia bukan saja amat
cantik, tetapi ia juga memiliki tubuh yang tampan dan mengga1rahkan. Dengan
mengenakan pakaian adatnya yang indah-indah menurut kebiasaan wanita di Aceh
dengan silueue (celana) sutera bewarna hitam dan baju dikancing perhiasan-
perhiasan emas di dadanya serta tertutup ketat, dengan rambutnya yang hitam
pekat dihiasi ulee cemara emas (sejenis perhiasan rambut) dengan gelang di
kakinya yang melingkar pergelangan lunglai, wanita itu benar-benar seorang
bidadari. (H.C Zentgraaff, 1983: 151) Setelah dewasa Cut Meutia dinikahkan
dengan Teuku Syamsarif yang bergelar Teuku Chik Bintara. Namun Syamsarif
mempunyai watak lemah dan sikap hidupnya yang ingin berdampingan dengan
Kompeni. Namun pernikahan mereka tidak bertahan lama, dan bercerai, Cut meutia
kemudian menikah dengan adik Teuku Syamsarif sendiri yaitu Teuku Chik Muhammad
atau yang lebih dikenal dengan nama Teuku Chik Tunong. Setelah itu ia dan
suaminya berhijrah ke gunung untuk melawan Belanda.
Perlawanan
Melawan Belanda Perjuangan dengan Teuku Chik Tunong: Tahun 1901 adalah awal
pergerakan, dengan perjuangan dari daerah Pasai atau Krueng Pa (Aceh Utara) di
bawah komando perang Teuku C Tunong. Mereka memakai taktik gerilya d spionase
dengan menggunakan untuk praj memata-matai gerak-gerik pasukan lawan Perjuangan
dengan Pang Nanggroe Sesuai amanah dari almarhum suaminya, Meutia menerima
lamaran Pang Nanggroe. D dengan beliau, Cut Meutia melanjutkan perjuang melawan
Belanda dengan memindahkan mark basis perjuangan ke Buket Bruek Ja. Pa Nanggroe
mengatur siasat perlawanan melaw Cut Meutia Memimpin Pasukan Kepemimpinan
pasukan diambil alih oleh Cut Meutia setelah Pang Nanggroe syahid, dan basis pertahanan
dipindahkan ke daerah Gayo dan Alas bersama pasukan yang dipimpin oleh Teuku
Seupot Mata. Pada tanggal 22 Oktober 1910, pasukan Belanda mengejar pasukan Cut
Meutia yang diperkirakan berada di daerah Lhokreuhat. Esoknya pengejaran
dilakukan kembali ke daerah Krueng Putoe menuju Bukit Paya sehingga membuat
pasukan Cut Meutia semakin terjepit dan selalu berpindah antar gunung dan hutan
belantaraa yang sangat banyak. Dalam pertempuran tanggal 25 Oktober di Krueng
Putoe, pasukan Cut Meutia menghadapi serangan Belanda. Di sinilah Cut Meutia
syahid bersama pasukan muslim yang lain seperti Teuku Chik Paya Bakong, Teungku
Seupot Mata dan Teuku Mat Saleh. Menjelang gugurnya, Cut Meutia mewasiatkan
kepada Teuku Syech Buwah untuk tidak lagi menghadapi serangan belanda, taktik
selanjutnya adalah mundur sejauh mungkin dan menyusun serangan kembali, karena
posisi mereka sudah sangat terjepit kali ini. Cut Meutia juga menitipkan
anaknya untuk dicari dan dijaga. Cut Meutia wafat di Alue Kurieng, Aceh, 24
Oktober 1910, dinobatkan menjadi Pahlawan Kemerdekaan Nasional pada 2 Mei 1964
berdasarkan Keppres No. 106 Tahun 1964.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar